Tiga Merek, Satu Rekening, Satu Kekacauan: Kisah Studio Kriya Solo Bayu Saputra
Oleh Tim InvoiceFlow — terbit 31 Mei 2026 — 9 menit baca
Bayu Saputra adalah jenis pengusaha yang tidak bisa diam. Dari sebuah studio di kawasan Laweyan, jantung industri batik Solo, dia menjalankan bukan satu, bukan dua, tapi tiga lini usaha sekaligus. Masalahnya, ketiga usaha itu hidup di rekening bank yang sama, dengan pembukuan yang sama berantakannya, dan setiap akhir tahun pajak Bayu merasa seperti sedang menyatukan kembali pecahan kaca.
"Aku punya energi buat tiga bisnis," katanya saat kami berkunjung ke studionya di antara tumpukan kain batik. "Tapi aku nggak punya sistem buat tiga bisnis. Itu bedanya, dan itu yang hampir bikin aku kena masalah pajak."
Ini cerita tentang kekacauan tiga merek — dan bagaimana akhirnya tiap merek punya rumahnya sendiri.
Tiga merek yang sangat berbeda
Usaha Bayu terbagi jadi tiga merek dengan karakter, pelanggan, dan model bisnis yang benar-benar berbeda:
- "Wastra Laweyan" — produk kerajinan batik tulis dan cap, dijual ke butik, kolektor, dan pembeli online. Harga per item, volume tinggi.
- "Saputra Studio" — jasa desain brand dan identitas visual untuk UMKM dan korporat. Proyek bernilai besar, sedikit klien, pembayaran bertahap.
- "Pasar Budaya" — penyelenggaraan acara budaya: pameran, workshop batik, festival kecil. Sponsor, tiket, dan kerja sama dengan pemerintah daerah.
Tiga merek, tiga jenis pelanggan, tiga pola pembayaran. Tapi satu rekening dan satu tumpukan faktur yang dibuat seadanya di aplikasi pengolah kata.
Mengapa pencampuran ini berbahaya
Bukan sekadar tidak rapi — pencampuran ini menciptakan risiko nyata:
- Tidak tahu mana yang untung. Karena semua uang bercampur, Bayu tidak pernah tahu apakah "Pasar Budaya" sebenarnya merugi dan disubsidi diam-diam oleh penjualan batik. Bisa jadi dia menghabiskan energi terbanyak di lini yang paling tidak menguntungkan.
- Risiko pajak. Ketiga merek punya karakter omzet berbeda. Mencampurnya membuat perhitungan omzet untuk PPh final UMKM 0,5% jadi tebakan, dan dokumentasi yang berantakan adalah masalah saat diperiksa.
- Citra tidak profesional. Klien desain korporat menerima faktur yang nomornya melompat-lompat (karena bercampur dengan nomor faktur batik), tanpa logo yang konsisten. Tidak meyakinkan untuk usaha yang menjual identitas visual.
Mengapa "buka tiga aplikasi" bukan solusi
Bayu sempat berpikir membuat tiga akun di tiga aplikasi berbeda. Tapi itu berarti tiga tempat login, tiga tempat backup, dan tetap harus menyatukan angka saat lapor pajak sebagai satu wajib pajak orang pribadi. Yang dia butuhkan adalah satu aplikasi yang bisa menampung tiga identitas usaha terpisah, tapi tetap memberinya gambaran utuh saat dibutuhkan.
Satu aplikasi, tiga rumah
Bayu beralih ke InvoiceFlow dan langsung memanfaatkan fitur yang seolah dibuat untuknya:
1. Profil bisnis ganda
Bayu membuat tiga profil bisnis di dalam satu aplikasi: Wastra Laweyan, Saputra Studio, dan Pasar Budaya. Masing-masing punya nama, logo, alamat, NPWP yang sama (karena satu orang pribadi) tapi penomoran faktur, catatan kaki, dan ketentuan pembayaran sendiri. Saat Bayu membuat faktur untuk klien batik, dia pilih profil Wastra. Untuk klien desain, profil Saputra Studio. Tidak ada lagi pencampuran.
2. Editor template per merek
Tiap merek punya karakter visual berbeda, dan Bayu memanfaatkan editor template untuk menyesuaikan tampilan faktur tiap profil. Faktur Saputra Studio tampil minimalis dan elegan sesuai citra desain. Faktur Wastra Laweyan menampilkan estetika batik. Faktur Pasar Budaya formal untuk keperluan sponsor dan instansi pemerintah.
3. Laporan terpisah per profil
Inilah yang mengubah cara Bayu mengambil keputusan. Untuk pertama kalinya, dia bisa melihat omzet, pendapatan, dan piutang masing-masing merek secara terpisah. Hasilnya mengejutkan.
Penemuan yang mengubah strategi
Setelah tiga bulan data terpisah terkumpul, Bayu menemukan kebenaran yang selama ini tersembunyi:
- Wastra Laweyan (batik): omzet Rp 412 juta/tahun, margin sehat, tulang punggung sebenarnya.
- Saputra Studio (desain): omzet Rp 198 juta/tahun, margin tertinggi per jam kerja.
- Pasar Budaya (acara): omzet Rp 87 juta/tahun, tapi setelah biaya, nyaris impas — dan menyita 40% waktunya.
"Aku selama ini bangga banget sama Pasar Budaya karena kelihatan keren dan rame," kata Bayu. "Ternyata itu yang paling nggak menguntungkan, dan disubsidi sama batik. Begitu lihat angkanya terpisah, aku langsung ubah strategi."
Bayu tidak menutup Pasar Budaya — acara budaya membangun reputasi dan jaringan. Tapi dia mengurangi frekuensinya, menaikkan kontribusi sponsor, dan mengalihkan energi yang bebas ke Saputra Studio yang ternyata paling menguntungkan per jam. Dalam dua kuartal, total laba bersihnya naik tanpa menambah jam kerja.
Sisi pajak: dari tebakan ke angka pasti
Dengan omzet ketiga merek tercatat terpisah namun bisa dijumlahkan, Bayu kini menghitung total omzet untuk PPh final UMKM 0,5% dengan akurat. Dia juga punya dokumentasi rapi per lini usaha — penting kalau salah satu merek tumbuh melewati batas omzet UMKM dan perlu perlakuan pajak berbeda di masa depan, atau kalau dia memutuskan memisahkan salah satunya jadi badan usaha sendiri.
Pelajaran untuk pengusaha multi-usaha
Banyak pengusaha kreatif Indonesia, seperti Bayu, menjalankan beberapa lini sekaligus. Energi itu kekuatan. Tapi tanpa pemisahan, energi itu berubah jadi kabut keuangan yang menyembunyikan kebenaran penting.
Pisahkan tiap merek sejak awal
Bahkan jika kamu satu orang dengan satu NPWP, tiap merek layak punya identitas faktur, template, dan laporannya sendiri. Pemisahan ini bukan ribet — justru menyederhanakan keputusan.
Lihat laba per lini, bukan total saja
Total saldo rekening menyembunyikan lini yang merugi. Hanya laporan terpisah yang menunjukkan mana yang menopang dan mana yang membebani.
Jaga konsistensi citra tiap merek
Klien menilai profesionalisme dari detail. Faktur dengan logo dan template konsisten per merek membangun kepercayaan.
Coba sendiri
InvoiceFlow gratis diunduh di Google Play. Fitur profil bisnis ganda, editor template, laporan terpisah per profil, dan PDF profesional tersedia tanpa langganan. Aplikasi berjalan offline dengan fitur backup, jadi data ketiga merekmu tetap aman dalam satu tempat.
Bayu, untuk catatan, masih menjalankan ketiga mereknya. Bedanya, sekarang dia tahu persis mana yang menghasilkan apa. "Aku masih nggak bisa diam. Tapi sekarang aku nggak diam di arah yang benar."